Kamis, 25 April 2013

Manchester United Yang Tidak Pernah Menjadi Biasa




Jika ada yang menganggap Manchester United tampil biasa-biasa saja musim ini, well mungkin anda hidup di planet Mars.



Ketika kebanyakan orang memandang mereka sebelah mata karena kalah oleh Everton di pertandingan perdana musim ini, hal itu tidak berlaku dengan saya. Mengapa? They are Man United. They do what they want. Literally.

Masih ingatkah anda ketika United harus mengakhiri musim 2011-2012 dengan sangat menyakitkan karena hanya kalah selisih gol dengan jumlah poin yang sama dari tim tetangga yang berisik? Yang lebih menyakitkan lagi, pesta perayaan United dicuri di menit-menit akhir, ketika Edin Dzeko dan Sergio Aguero mencetak gol di pertandingan sebelah untuk memastikan kemenangan Manchester City. Saat itu, semua fans United yang menyaksikan dua gol tersebut bersarang di gawang QPR – yang hanya dalam hitungan menit – tentu seperti ditampar oleh Mike Tyson. Pastinya sangat menyakitkan. And because of that goals, they were Manchester Untitled, not United that season.

Belajar dari pengalaman pahit musim lalu, United bangkit musim ini. Entah apa yang terjadi di ruang ganti United musim ini. Apakah Sir Alex Ferguson mengancam akan melempar sepatu pada siapapun yang dianggap bermain jelek di setiap pertandingan? We don’t know. But they did a very great job this season. Meskipun tampil tidak terlalu fantastis, United adalah tim yang paling konsisten di Premier League. Mereka tak harus bermain spektakuler untuk bisa mencuri tiga angka di setiap pertandingannya. Saya ulangi lagi, konsisten.

 


Banyak orang menyematkan United sebagai Van Persie FC ketika mantan pemain kesayangan dan mantan kapten Arsenal (yang ini harus ditulis, penting!) tersebut berkali-kali menjadi penyelamat timnya. Dan apakah saya setuju dengan pernyataan tersebut? Tidak. Van Persie TIDAK mencetak gol selama 10 pertandingan Premier League dan apa yang terjadi pada United? Nothing. United tetap mampu meraih kemenangan demi kemenangan without The Dutchman goals. Hal ini memastikan bahwa mereka bukanlah one man show team. Seperti halnya judul lagu lawas ‘Save The Best For Last’, RVP mengukuhkan diri menjadi pencetak gol terbanyak sementara ketika mencetak hat-trick ke gawang Aston Villa, sekaligus memastikan gelar ke-20 United musim ini.

Lalu tim mana yang sebenarnya menjadi one man show team musim ini? Mari kita berandai-andai. Apa jadinya Chelsea tanpa Juan Mata? Tottenham Hotspur tanpa Gareth Bale? Dan Liverpool tanpa Luis Suarez? Tidak perlu penjelasan lebih, semua pasti tahu alasannya. Ya, mereka memegang peranan penting untuk timnya masing-masing. Tanpa tiga pemain tersebut, tim mereka dipastikan hanya akan bertengger di papan tengah. Maaf, koreksi, kecuali Liverpool. Ya karena mereka memang sudah berada di sana.
Memenangi Liga Inggris sebanyak 20 kali, yang 13 diantaranya dimenangi di era Premier League, tentu bukanlah hal biasa.

 


Dan apabila ada yang menyanyakan siapa tim terbaik di Inggris dalam dua dekade terakhir? Jawabannya hanya satu: United. Jika ada yang menjawab Chelsea, Arsenal, atau bahkan Liverpool, mungkin ia tertidur selama dua dekade belakangan. Akumulasi dari faktor pelatih jenius, pemain setia, dan fans fanatik, menjadikan tim ini berbeda dari yang lainnya. Oleh karena itu, United mampu membangun sejarah dan tradisi yang kuat di dunia sepak bola negeri Ratu Elizabeth ini.

Menyisakan empat pertandingan liga dengan jumlah 84 poin dengan telah memastikan gelar tentunya tak akan membuat mereka puas dan berhenti mengukir catatan sejarah. Semua orang tahu bahwa gelar ini akan lebih manis jika mereka mampu melampaui jumlah poin yang pernah ditorehkan Chelsea – yang saat itu diarsiteki oleh Jose Mourinho – delapan tahun silam. Chelsea berhasil mengoleksi 95 poin kala itu, dan saat ini masih menjadi jumlah poin tertinggi di era Premier League. Jika Ryan Giggs cs bisa menyapu bersih empat pertandingan sisa, jumlah poin mereka akan menjadi 96 poin. Tentu saja hal ini menjadikan United sebagai tim yang mampu mencetak sejarah baru di Inggris.

Pertanyaannya: Apakah mungkin bagi tim yang dianggap tampil biasa-biasa saja musim ini, punya kesempatan untuk mencetak sejarah langka seperti ini? Tentu saja tidak.
Ada hal yang menarik di sini. Untuk mematahkan rekor Chelsea tersebut, United harus menundukkan sang empunya rekor di Old Trafford pada akhir pekan depan. Dan apakah mereka mampu meraih total 96 poin pada 19 Mei nanti di pertandingan penutupan?

 


Time will answer. But one thing that you have to remember for the entire of your life: They are Man United. They do what they want.

Setelah membaca artikel ini, kira-kira masih ada yang menganggap United adalah tim yang tampil biasa-biasa saja musim ini? I don’t think so.

*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: Manchester United Yang Tidak Pernah Menjadi Biasa*

Source: www.supersoccer.co.id

Jumat, 23 November 2012

Ujian Fans Chelsea Yang Sesungguhnya: Roman Abramovich





Ya, artikel ini memang dibuat berdasarkan polemik yang terjadi di tubuh Chelsea saat ini. Dimana para fans mulai terpecah, beberapa – meski merasa sedih – tetap yakin pada keputusan sang pemilik – dan sebagian besar lainnya mulai kehilangan kepercayaan pada sang pemilik yang dikenal sadis dalam memecat pelatih papan atas. Sang taipan Rusia memang cukup berdarah dingin dalam memuaskan ambisinya, sebut saja nama-nama besar yang dibuang begitu saja seperti Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti, Andre Villas-Boas, dan yang terakhir adalah Roberto Di Matteo. Bahkan kemilau rentetan piala yang pernah dipersembahkan oleh Mourinho, Ancelotti, dan Di Matteo tak mampu menjadi alasan, jika sang pemilik sudah menganggap pekerjaan mereka gagal.

Hal ini membuat kursi pelatih Chelsea saat ini menjadi yang terpanas di dunia, siapapun yang berani menerima pekerjaan sebagai pelatih Chelsea pastinya harus mempunyai persiapan mental yang cukup jika suatu saat nanti mereka disingkirkan begitu saja dari Stamford Bridge. Bahkan gaji besar yang ditawarkan melatih di sana rupanya masih menciutkan nyali Pep Guardiola – yang namanya sempat mencuat sebagai pelatih selanjutnya – sehingga harus berasalan belum mau melatih lagi.

Abramovich memang lebih terlihat sebagai kaisar di kerajaan adidaya, daripada sekedar seorang pemilik tim sepak bola profesional. Tindakannya memang terlihat sangat arogan, tapi begitulah cara sang kaisar memerintah di kerajaan yang sedang dipimpinnya yang bernama The Roman Empire. Mengutip sebuah pernyataan dari seorang sport caster yang cukup dikenal di negeri ini, Reinhard Tawas melalui akun twitter miliknya: @reinhardtawas: “Di salah satu panel atap Stamford Bridge ada tulisan besar yang tak pernah masuk TV: Roman Empire. Mungkin karena itu dia bertindak seperti kaisar.” Ya, tulisan singkat yang ada di atap stadion itu mungkin menjelaskan semuanya.

Abramovich saat ini memang selalu menjadi bahan olok-olok dari fans klub rivalnya atas kebiasaan buruknya tersebut, dan yang lebih memperparah adalah olok-olokan tersebut kini datang dari fans Chelsea sendiri. Tapi, adakah yang mampu mengambil sisi positif dari kebiasaan buruk sang pemilik tersebut?

Fans Manchester City boleh berbangga mempunyai seorang pemilik klub yang kekayaannya jauh melampaui Abramovich, jangan heran bila semua pemain besar dari seluruh penjuru dunia seolah berlomba-lomba ingin merapat ke Etihad Stadium di Manchester untuk mendapatkan gaji spektakuler dan jauh dari apa yang pernah mereka terima sebelumnya. Akan tetapi, apakah pemilik mereka, Sheikh Mansour, sering terlihat di setiap pertandingan untuk menyaksikan tim yang dimilikinya bertanding? Tidak. Anda bisa menghitung dengan jari berapa kali pemilik asal Abu Dhabi itu menyaksikan timnya berlaga. Tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan Abramovich, yang hampir di setiap pertandingan selalu terlihat di tribun menikmati tim kesayangannya bertanding. Bahkan untuk laga tandang sekalipun, ia nyaris tak pernah absen.



Tak bisa dipungkiri, Abramovich adalah fans nomor satu Chelsea. Ron Gourlay, CEO Chelsea, menegaskan bahwa tidak ada satupun orang yang mencintai Chelsea melebihi dirinya (Roman), dan dia akan melakukan apapun demi mendapatkan banyak gelar. Mungkin karena itu ia sering menginterfensi langsung klub yang dimilikinya, tidak seperti para pemilik klub yang lain yang lebih mempercayakan tugas itu diemban oleh jejeran petinggi klub dengan tugasnya masing-masing.

Meski terlihat tidak terima atas tindakan semena-mena yang dilakukan oleh sang pemilik, fans Chelsea saat ini masih terlihat dalam situasi yang cukup kondusif. Di dalam lubuk hati mereka sebenarnya cukup sadar atas apa yang sudah dilakukan oleh sang pemilik sejak mengambil alih klub kesayangan mereka dari Ken Bates, pemilik sebelumnya pada tahun 2003 silam. Sejak kedatangan Roman, Chelsea pun menjelma menjadi tim yang sangat ditakuti. Gelar medioker yang kala itu menempel pada tim ini pun mulai luntur, Chelsea berubah menjadi tim yang cukup ditakuti di Inggris, bahkan di Eropa. Prestasi puncaknya adalah pada Mei silam, ketika tim yang tidak diunggulkan saat itu mampu membalikkan keadaan dan menang secara dramatis di Munich atas tuan rumah, Bayern Munich. Yes, their first Champions League trophy, Champions of Europe.

Kepergian Di Matteo yang sangat mendadak memang menyedihkan buat sebagian besar fans Chelsea, tapi bukankah hal seperti ini sudah biasa di era kepemimpinan Roman? Kepergian Mourinho dan Ancelotti sebelumnya juga sempat memunculkan polemik serupa, namun pada akhirnya itu semua bisa dilewati dan terlupakan dengan sendirinya bukan? Jika anda merupakan fans Chelsea, anda tak perlu takut tim anda tak memenangkan gelar apapun selama tujuh tahun, atau harus menunggu puluhan tahun untuk bisa kembali menjadi yang terbaik di Inggris. Abramovich tak akan membiarkan hal itu terjadi, oleh karena itu mengapa ia terlalu mudah memecat pelatih yang ia anggap gagal, melalui perspektifnya.

Pelatih anyar The Blues, Rafa Benitez, memang pelatih yang kurang disukai di Stamford Bridge, apalagi ia punya reputasi buruk terhadap Chlelsea saat masih menukangi The Reds melalui komentar-komentarnya kala itu. Namun kini ia adalah bagian dari Chelsea, jika anda benar-benar menyukai tim ini, tentu anda harus menerimanya, suka atapun tidak. Abramovich sudah memberikannya kepercayaan pada pelatih asal Spanyol itu untuk menukangi tim yang dicintainya, dan memang tak ada salahnya kan mencoba? If you never try, you’ll never know.

Haruskah fans Chelsea membenci Roman setelah apa yang dilakukannya selama ini? Jika anda benar-benar mencintai klub tersebut, pada akhirnya anda pasti mengerti. At Least, cobalah untuk mengerti. Abramovich adalah ujian fans Chelsea yang sesungguhnya, if you really know what I mean.



So the question is: Which Chelsea fans are you? ‘In Roman We Trust’ or ‘Love Chelsea Hate Roman’? You choose!

*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: Ujian Fans Chelsea Yang Sesungguhnya: Roman Abramovich*

Source: www.supersoccer.co.id

Selasa, 09 Oktober 2012

LUPA


Lupa adalah hal yang sangat manusiawi
Semua orang pasti bisa lupa
Bahkan hal-hal terindah pun bisa terlupa
Ada yang sengaja, ada yang tidak sengaja
Kalo yang tidak sengaja, namanya Amnesia
Meskipun banyak yang berseru 'Menolak lupa', terkadang lupa tak bisa ditolak
Pilihannya kan cuma dua: Kalo tidak lupa, ya berarti ingat


Postingan di atas bukan puisi, atau bahkan sajak. Hanya ungkapan doang, setelah terakhir kalinya gue posting artikel terakhir tanggal 22 Mei 2012, gue bahkan gak inget apa isi password blog gue ini pas gue mau nulis lagi hari ini. Ah elah.

Gak pernah nulis blog lagi bukan berarti gue gak punya ide atau apa, terkadang gue cuma gak punya waktu. Gue janji deh bakal lebih sering lagi mampir dan nulis di sini (lagi), sebelum akhirnya gue bener-bener gak bisa masuk lagi karena itu tadi. LUPA. :D

Selasa, 22 Mei 2012

John Terry, Sosok Yang Semakin Dibenci Namun Semakin Sukses



John Terry menjadi bulan-bulanan di Twitter karena mengangkat trofi Liga Champion dengan menggunakan seragam lengkap.

Banyak yang menjadikan Terry sebagai bahan ejekan ketika kapten Chelsea itu berganti baju sesaat setelah timnya berhasil memenangkan The Big Ears, Sabtu malam waktu Munich kemarin. Ya, di Twitter ia mendapatkan kecaman bahkan ejekan dari orang-orang yang menganggap hal tersebut sebagai hal yang aneh.

Pasalnya Terry menggunakan seragam lengkap, plus dengan pelindung kaki pula. Lucu memang, mengingat dirinya tak akan mendapatkan tekel keras di kaki saat melakukan perayaan di lapangan bukan? Mereka yang menjadi saksi saat Michel Platini memberikan trofi pasti kaget bukan kepalang melihat Terry tiba-tiba masuk ke tengah kerumunan pemain di podium dan berusaha mengangkat trofi tersebut, padahal sebelumnya ia duduk manis berdampingan dengan Henrique Hilario di tribun penonton dengan menggunakan kemeja lengkap dengan dasi.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa semua mata hanya menuju pada sosok Terry, mengingat empat nama lain yang tak bermain di pertandingan tersebut juga melakukan hal serupa? Branislav Ivanovic, Raul Meireles, Ramires, dan Hilario ikut berganti baju untuk ’menyeragamkan’ diri saat menerima trofi, dan sampai saat ini bahkan sepertinya hampir tak ada yang mempermasalahkan mereka.


Lalu mengapa hanya Terry? Seperti yang diketahui sebelumnya, Terry adalah sosok yang kontroversial dan merupakan public enemy. Masih ingat pada kartu merah yang diterimanya di leg kedua saat menghadapi Barcelona karena sengaja menendang Alexis Sanchez? Ya, itu adalah hal terkonyol yang pernah dilakukan oleh seorang kapten klub sebesar Chelsea. Tindakan bodohnya itu pasti membuatnya menyesal seumur hidup karena tak bisa berlaga di partai final saat timnya meraih gelar juara.


Ia memang belum dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas dugaan komentar rasial yang dialamatkan padanya, tapi publik sudah terlanjur menilai Terry benar-benar melakukan hal itu pada Anton Ferdinand saat timnya takluk 1-0 dari QPR Oktober silam. Baik, mari kita coba mundur lagi jauh ke belakang. Terry sempat menjadi sorotan media saat ia berselingkuh dengan mantan pacar Wayne Bridge yang bernama Vanessa Perroncel. Akibat kejadian itu, Bridge sempat marah padanya. Ia bahkan tak mau menyalami mantan sahabatnya itu saat keduanya bertemu untuk pertama kali di sebuah pertandingan antara Manchester City kontra Chelsea.

Semua cap buruk yang disematkan pada ayah kembar Georgie dan Summer Rose ini membuat apapun yang dilakukan Terry menjadi sorotan. Tak heran jika banyak yang mempermasalahkan jika Terry mencoba untuk mengangkat trofi Liga Champion dengan seragam lengkap. Mereka sekan lupa bahwa Terry merupakan bagian dari perjalanan Chelsea meraih partai final itu. Sosok vitalnya di jantung pertahanan Chelsea saat menjalani taktik parkir bus di dua pertandingan semi final menghadapi Barcelona buktinya sukses membuat pemain setengah dewa sekelas Lionel Messi sempat dibuat frustasi karenanya.

Siapa yang seharusnya disalahkan? UEFA adalah sosok yang paling bertanggung jawab atas hal ini. Ya, jika saja mereka tak menganulir keputusan mereka dengan mengizinkan Terry mengangkat trofi di podium, Terry dipastikan tak akan menggunakan seragam lengkap. Hal ini bisa menimbulkan kecemburuan pada fans Manchester United, mengingat mantan kapten mereka Roy Keane tak bisa mengangkat trofi di podium karena juga menerima hukuman saat timnya memenangkan Liga Champion pada 1999 silam. Saat itu Keano dan Paul Scholes – yang juga tak bisa dimainkan pada pertandingan itu – menggunakan menggunakan setelan abu-abu saat ikut merayakan timnya memastikan Treble Winner di musim tersebut.


Lucunya, Keane sempat mengatakan bahwa Terry layak jika diberikan kesempatan untuk mengangkat trofi apabila timnya menjadi juara di Allianz Arena. Menurutnya, Terry layak diberikan penghargaan tersebut karena ia memang seorang kapten klub. Ia bahkan tak merasa iri dan mempermasalahkan kebijakan UEFA itu, meski 13 tahun silam dirinya baru bisa turun ke lapangan 30 menit setelah penyerahan piala. Sebuah tindakan sportifitas yang luar biasa.

Terlepas dari semua kelebihan dan kekurangannya, Terry akan selalu menjadi sosok yang kontroversial. Cibiran dan ejekan orang yang mengarah pada dirinya malah menjadi doa untuknya agar bisa meraih kesuksesan. Suka atau tidak, saat ini ia tercatat sebagai kapten tersukses dari semua kapten yang ada di klub Inggris saat ini karena torehan gelar yang sudah ia menangkan, termasuk empat Piala FA di Wembley.

Haters gonna hate, but John Terry has won the double (again) this year!


*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: John Terry, Sosok Yang Semakin Dibenci Namun Semakin Sukses*

Source: www.supersoccer.co.id

Selasa, 15 Mei 2012

Premier League Review Season 2011/12


Premier League menjalani musim yang luar biasa, menyajikan drama hingga musim benar-benar berakhir.

Setelah nyaris sepanjang musim berada di puncak klasemen, Manchester City mulai kehilangan konsistensi lepas tengah musim. Mereka beberapa kali mengalami hasil imbang dan bahkan kalah secara mengejutkan, sehingga membuat Manchester United yang setia menempel ketat mereka mengambil alih posisi puncak.
Siapa yang akan menyangka bahwa musim ini akan didominasi oleh dua tim asal kota Manchester? Sedangkan jagoan-jagoan dari London seperti Chelsea, Arsenal, dan Tottenham seolah tak mampu menyaingi duo asal kota pelabuhan tersebut.


Chelsea memulai musim dengan sangat baik, tangan dingin pelatih anyar Andre Villas-Boas yang di musim sebelumnya memenangkan Treble bersama Porto pun cukup menjanjikan di awal-awal. Sampai akhirnya mereka merosot tajam dan bahkan keluar dari empat besar, membuat pelatih asal Portugal itu harus dipecat. Sang asisten pelatih, Roberto Di Matteo mengambil alih, dan di sini grafik Chelsea mulai naik kembali.

Di Matteo membawa Chelsea menembus dua partai final bergengsi, final Piala FA dan final Liga Champion. Yang pertama sudah mereka menangkan, mereka berhasil menekuk Liverpool 2-1 di Wembley. Berikutnya mereka akan menjalani final di Munich, berharap untuk bisa memenangkan satu-satunya piala yang belum pernah mereka menangi. Meski hanya mampu finish di peringkat enam musim ini, Chelsea berpeluang berlaga di Liga Champion musim depan, jika mereka mampu membungkam Bayern Munich di partai puncak pekan ini.

Tottenham adalah salah satu tim yang mengalami inkonsistensi musim ini, setelah sempat berpeluang menyaingi duo Manchester dalam perburuan gelar di pertengahan musim, mereka malah kehilangan banyak poin jelang musim berakhir. Membuat Arsenal yang sempat tertinggal jauh mampu mengejar perolehan angka mereka dan mengakuisisi peringkat tiga, sampai pertandingan terakhir. Kabarnya isu Harry Redknapp yang akan dipanggil menjadi pelatih timnas Inggris cukup mengganggu konsentrasi tim tersebut.

Tottenham hanya mampu finish di peringkat empat, dan berharap Chelsea gagal menang di final Liga Champion agar jatah posisi empat untuk ikut ke kompetisi elit Eropa musim depan tak hilang dari genggaman mereka. Jika Chelsea juara, Tottenham harus puas bermain di Europa League musim depan.


Meski gagal meraih gelar (lagi) musim ini, Arsenal puas bisa finish di peringkat tiga. Ini membuat mereka bisa tampil sebanyak 15 kali secara berturut-turut di Liga Champion musim depan, prestasi yang cukup membanggakan. Apalagi kaptennya, Robin van Persie, keluar sebagai pencetak gol terbanyak dengan torehan 30 gol di Premier League. Van Persie kini menjadi pencetak gol terbanyak ke-8 Arsenal, dengan total 132 gol.

Satu lagi tim yang menjalani musim dengan luar biasa, Newcastle United. Setelah sempat tak terkalahkan di awal-awal musim, Newcastle sempat mencicipi posisi empat besar selama beberapa pekan. Namun kekalahan demi kekalahan membuat mereka harus keluar dari posisi tersebut, sampai pertengahan musim. Kedatangan Papiss Demba Cisse di Januari membawa sesuatu yang positif. Ia berhasil mencetak gol nyaris di setiap pertandingan dan membawa Newcastle punya harapan untuk berlaga di Eropa. Namun sayang di pertandingan penutup mereka harus takluk 3-1 dari Everton dan membuat mereka harus puas finish di peringkat lima.


Alan Pardew terpilih sebagai pelatih terbaik versi Barclays, karena membawa Newcastle yang awalnya hanya menargetkan bertahan di Premier League kini punya harapan untuk bermain di Eropa. Bahkan mereka sudah sangat dekat dengan Liga Champion, jika saja Arsenal dan Spurs terpeleset di pertandingan terakhir dan mereka mampu meraih poin penuh.

Kembali ke pertarungan di puncak klasemen, City mengambil alih posisi puncak dari tangan United setelah tetangganya itu kehilangan poin saat bertandang ke Wigan dan menjamu Everton di Old Trafford. Membuat derby Manchester beberapa pekan silam menjadi pertandingan penentuan, siapa yang lebih baik.


City kembali ke puncak setelah Vincent Kompany berhasil membawa timnya unggul tipis 1-0 di pertandingan yang dihelat di Etihad Stadium. Tiga poin menyamakan perolehan angka dengan United, namun mereka unggul jauh dalam selisih gol.

Fans Arsenal tak akan bisa melupakan kekalahan menyakitkan 8-2 di Old Trafford, begitupun fans United yang tak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang suram 6-1 di tempat yang sama. Dua hasil pertandingan musim ini yang mungkin bisa membuat kita yang menyaksikannya mengerenyitkan dahi, seolah tak percaya dengan apa yang tertera di papan skor.

Musim ini adalah salah satu musim terbaik dalam sejarah Premier League, mengapa demikian? Karena gelar juara ditentukan hanya dalam hitungan menit di pertandingan penutup. Ya, siapa yang akan menyangka City mampu berbalik unggul 3-2 setelah sempat tertinggal 2-1 sampai menit ke-90? Gol Edin Dzeko dan Sergio Aguero di menit injury time memastikan perayaan gelar tetap dirayakan di Etihad Stadium. Padahal sebelumnya ketika wasit meniup peluit panjang di Stadium of Light, United adalah juaranya.


Inilah alasan mengapa Premier League dinyatakan sebagai liga terbaik di dunia, karena kita tidak pernah bisa menduga dan memprediksi setiap pertandingannya. Yap, kita harus menahan nafas hingga menit-menit akhir, melihat drama yang terjadi di pertandingan penutup Premier League musim ini. Luar biasa bukan?


*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: Review Premier League Musim 2011/12: Ketat Hingga Pertandingan Terakhir*

Source: www.supersoccer.co.id

King Of Wembley


Tak ada yang lebih hebat dari seorang Didier Drogba di New Wembley.

Striker Chelsea itu baru saja membawa timnya memastikan gelar juara Piala FA pada Sabtu lalu setelah berhasil mencetak gol kedua Chelsea dan membawa timnya menang 2-1 atas Liverpool. Sebanyak 89.102 pasang mata menjadi saksi ketika Drogba berhasil mencatatkan namanya (lagi) di papan skor, seperti yang biasa ia lakukan di tiga final sebelumnya sejak bergabung dengan Chelsea.



Sang pahlawan Wembley itu sekali lagi menunjukkan keperkasaannya dan memastikan diri sebagai pemain yang paling menentukan di partai final Piala FA yang dijalani Chelsea. Dalam delapan penampilannya di Wembley, Drogba mencetak delapan gol, termasuk empat golnya di empat final Piala FA yang berbeda. Sebuah rekor yang kemungkinan sulit diciptakan oleh siapapun.

Ia mungkin tak tampil sebaik dirinya beberapa tahun lalu, namun penunjukkan dirinya sebagai starter daripada Fernando Torres pun menjawab semua pertanyaan. Drogba masih memiliki kekuatan dan mental yang diperlukan timnya, dan yang terpenting adalah ia mampu mencetak gol di masa-masa penting.



Gol Drogba diciptakan tepat di menit ke-52. Ia memanfaatkan umpan Frank Lampard, dan dirinya membalikkan badan sambil melepas tembakan yang tak mampu dihalau Pepe Reina. Martin Skrtel memang berdiri di dekat sang striker, namun ia tak bisa menghentikan tembakan Drogba yang tak begitu keras itu.

Seperti halnya para pemain senior yang lain seperti John Terry, Ashley Cole dan Lampard, Dogba masih dipercaya oleh Roberto Di Matteo untuk menjadi tulang punggung Chelsea. Ia menunjukkan bahwa dirinya belum habis, bisa dilihat konribusinya dari dua pertandingan menghadapi Barcelona, begitupun di dua pertandingan laga 16 besar saat Chelsea bertemu Napoli, atau semi final Piala FA saat Chelsea menyingkirkan Tottenham.

Masa depannya masih belum jelas, mengingat kontraknya akan habis di Chelsea di musim panas ini. Sampai saat ini pihak klub belum menemukan kesepakatan dengan Drogba, dan masih belum bisa dipastikan apakah ia akan dipertahankan atau pada akhirnya akan dilepas.

Meski demikian, Drogba adalah seorang profesional. Ia tahu bahwa tugasnya belum selesai. Pada 19 Mei mendatang Chelsea akan menjalani salah satu pertandingan terbesar sepanjang sejarah saat mereka berlaga di partai final Liga Champion di Allianz Arena, menghadapi sang empunya stadion, Bayern Munich.


Dan jika ia benar-benar pergi di akhir musim nanti, perpisahan akan semakin manis jika Drogba mampu menyandingkan Piala FA dengan piala yang sangat diidam-idamkan, trofi Liga Champion. Atau mungkin dirinya akan dipertahankan jika mampu mewujudkan hal itu sebagai penghargaan baginya.

Di usia yang sudah mencapai 34 tahun, Drogba sadar bahwa ia sudah ada di penghujung karirnya. Memenangkan Liga Champion adalah kesempatan besar yang tak mungkin ia lewatkan. Oleh karena itu, sang pahlawan Wembley itu akan berusaha semampunya untuk bisa mewujudkan mimpinya tersebut di Jerman nanti.

It’s now or never!

*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: Drogba, Pahlawan Chelsea Di Wembley*

 Source: www.supersoccer.co.id

Selasa, 06 Maret 2012

AVB Dipecat, Ini Kata Fans Chelsea Indonesia

VIVAbola – Andre Villas-Boas resmi dipecat. Tepatnya pada Minggu, 4 Maret 2012. Situs resmi Chelsea, www.chelseafc.com mengumumkan pemecatan AVB kepada para supporter The Blues. Tanggapan dari mereka pun beragam.

Ada yang senang karena ia dianggap tidak bisa memberikan perubahan untuk Chelsea. Ada pula yang menyayangkan kenapa pemilik klub, Roman Abramovich terlalu mudah memecat seorang pelatih.

Sejak Abramovich resmi menjadi pemilik klub, ia sudah memecat setidaknya 7 manajer dalam 9 tahun terakhir. Masalahnya hanya satu, Abramovich selalu ingin menghasilkan prestasi dengan instan. Padahal, tidak mudah untuk membangun sebuah tim dalam waktu yang singkat.

Hal ini juga diutarakan oleh pelatih kepala tim futsal Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC), Doni Zola. Ia tidak mengira jika Abramovich akan berani memecat AVB mengingat tidak ada calon yang mumpuni. Guus Hiddink yang difavoritkan sudah resmi melatih klub Rusia Anzhi Makhachkala sejak 17 Februari 2012.

“Tidak ada yang pantas menjadi manajer Chelsea (saat ini) kecuali Guus Hiddink. Dia mempunyai karisma yang membuat semua pemain mengikuti semua perintahnya,” kata Doni kepada VIVAbola, 4 Maret 2012.

Doni tidak menyalahkan AVB atas hasil buruk yang dihasilkan Chelsea musim ini. “AVB adalah pelatih hebat tapi dia masih minim pengalaman. Dan yang disayangkan, karakternya tidak sekuat Jose Mourinho. Cara pendekatan Villas-Boas tidak seperti Mourinho.”

Memang, semasa kepelatihan Mourinho. Pemain-pemain senior yang sekarang dianggap sebagai biang pemecatan AVB justru sangat mendukung Mourinho.

Menurut Doni, salah satu penyebab utama AVB adalah usia. Usianya baru 34 tahun. Hanya lebih tua setahun dari Didier Drogba dan Frank Lampard. Bahkan, kiper ketiga Chelsea, Hilario usianya lebih tua dari AVB. Ia juga menyatakan jika Villas-Boas tidak bisa mengatur pemain senior layaknya Mourinho.

Meski begitu, Doni tidak menyalahkan pemain senior. Berkat mereka Chelsea bisa meraih double winners di 2010. Hanya saja kali ini permainan pemain senior tidak sebagus dulu. Masa mereka tampaknya sudah mau habis.

Sama seperti Doni, Sekjen CISC, Malvino Mambu juga kaget dengan pemecatan AVB yang dinilainya sudah ‘terlambat’. “Kalau Abramovich memang mau pecat AVB, seharusnya dari awal, karena sekarang musim 2011-2012 sudah mau berakhir.” ujar pria yang akrab dipanggil Vino ini kepada VIVAbola.

“Jadi manajer di Chelsea itu susah. Setidaknya mereka harus mendapatkan satu piala di setiap musim. Target Roman terlalu tinggi untuk standar Premier League saat ini. Lihat saja Carlo Ancelotti, ia membantu mendapatkan Double Winners di musim pertamanya. Kemudian, musim berikutnya ia tidak mendapatkan apa-apa. Dan hasilnya, ia juga dipecat oleh Abramovich.”

Meski begitu mereka memaklumi ‘kebiasaan’ Abramovich. “Bagaimanapun juga, ia adalah pemilik Chelsea. Pemilik klub yang kami cintai. Kami tidak bisa membencinya. Ia sudah memberikan segalanya untuk Chelsea sejak 2003,” tambah Vino.

Terakhir, mereka berharap siapapun manajer Chelsea. Ia bisa memberikan perubahan untuk klub yang berbasis di London Barat tersebut. “Siapapun manajernya, mudah-mudahan ia bisa memberikan hasil yang baik untuk klub. Kami sudah belajar untuk mencintai klub dan bukan individu.”


Artikel di atas adalah wawancara saya dan Doni Zola sebagai perwakilan Chelsea Indonesia Supporters Club (CISC) tentang pemecatan Andre Villas-Boas dari Chelsea, yang ditulis oleh Nadia Hutami untuk VivaBola di VivaNews.com