Rabu, 12 Juni 2013

Apa Nikmatnya Menjadi Suporter Mainstream?


Ketika pertama kali saya memutuskan untuk menjadikan Chelsea sebagai tim favorit saya, saya merasa hanya sendirian.

Chelsea adalah tim yang tak begitu saya kenal di pertengahan tahun 90an, ya kala itu mayoritas pecinta sepakbola di negeri ini memang mengarahkan pandangannya pada sepakbola Italia yang disiarkan secara rutin di stasiun TV lokal. Tak banyak yang tahu dan mengikuti Liga Inggris seperti sekarang ini. Waktu itu, yang saya tahu Chelsea adalah tim medioker yang rajin mengoleksi pemain-pemain tua seperti Ruud Gullit, Gianluca Vialli, dan Gianfranco Zola. Tim yang aneh.

Jujur, saya baru rutin menyaksikan Chelsea ketika tim ini dibeli oleh tukang minyak asal Rusia keturunan Yahudi bernama Roman Abramovich. Yang menarik untuk saya adalah ketika tim yang saat itu dilatih oleh Claudio Ranieri mulai membangun skuadnya. Memang Frank Lampard dan William Gallas sudah berada di sana kala itu, namun belanja besar-besaran senilai 120 juta Pounds di musim panas 2003 mulai menarik perhatian saya.

Terjadi ekspansi besar-besaran di London Barat. Damien Duff, Wayne Bridge, Joe Cole, Glen Johnson, Juan Sebastian Veron, Hernan Crespo, Claude Makalele, sampai Adrian Mutu ramai-ramai menjelma menjadi power rangers biru di Stamford Bridge. Seiring berjalannya waktu, Chelsea mulai menjadi tim kuat di Liga Inggris. Saat itu mereka menjadi tim yang layak diperhitungkan, karena hanya kalah jumlah poin dari Arsenal yang menjadi juara dengan tak terkalahkan selama semusim (dan selalu dibangga-banggakan oleh fansnya bahkan sampai saat ini).

Tak hanya itu, Chelsea mampu menembus babak semi final Liga Champion di musim yang sama, namun perjalanan mereka harus terhenti oleh AS Monaco yang kala itu menjadi tim kuda hitam. Hasil yang cukup lumayan buat tim kemarin sore bukan? Saat itulah saya mulai jatuh cinta dan memutuskan untuk menjadikan Chelsea sebagai tim favorit. Sepertinya seru mendukung tim medioker yang sedang membangun. Saya adalah tipe orang yang anti kemapanan, mendukung tim seperti Manchester United atau Arsenal saat itu sama sekali tidak menarik minat saya. Dimana seninya mendukung sebuah tim yang mainstream? Pikir saya kala itu.

Namun prestasi yang cukup memuaskan saat itu dianggap gagal oleh si tukang minyak. Hal ini membuat Ranieri harus didepak dan diganti oleh pelatih yang baru. Pelatih itu bernama Jose Mourinho, pelatih yang baru saja memenangkan Liga Champion tiba-tiba ditunjuk untuk melatih tim kesayangan saya. WTF?!

Kedatangan Mourinho awalnya sempat membuat saya ragu, saya tak yakin pelatih yang dikenal songong dan bermulut besar ini bisa sukses menjadi pelatih tim favorit saya. Sialnya, dia berhasil membawa Chelsea menjadi jawara Liga Inggris di tahun 2005 dengan jumlah poin tertinggi sepanjang sejarah, 95 poin. Bahkan Arsenal yang memenangkan trofi emas semusim sebelumnya karena tak pernah kalah saja tak mampu mengumpulkan poin sebanyak itu dalam satu musim. Tak hanya itu, Chelsea juga menjadi tim yang kebobolan paling sedikit di liga, hanya 15 gol. Dan dua angka tersebut menjadi rekor yang belum mampu dipecahkan oleh siapapun hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, kesuksesan demi kesuksesan yang diraih Chelsea hampir di setiap musim menjadikan tim ini menjadi tim favorit banyak orang juga. Hal yang lumrah memang, jika orang memilih tim favorit di masa kejayaannya. Dan itu adalah hak mereka.

Saya sadar bahwa saya tak lagi sendiri. Puncaknya adalah ketika Chelsea menembus babak final Liga Champion yang kedua. Saya tak pernah membayangkan sebelumnya ada lebih dari 7000 manusia yang semuanya nyaris menggunakan atribut Chelsea tumpah ruah di sebuah tempat di bilangan Kuningan untuk menyaksikan partai ini. Terjadi gempa bumi kecil di Epicentrum begitu Didier Drogba memastikan kemenangan Chelsea setelah berhasil mengecoh Manuel Neuer di adu tendangan penalti. Chelsea memenangkan Liga Champion yang pertama. Piala yang sangat diidam-idamkan oleh Abramovich.

Kembalinya Mourinho ke Stamford Bridge menjanjikan era kejayaan baru khususnya di level domestik. Dengan hilangnya Sir Alex Ferguson di Premier League, di atas kertas Chelsea menjadi tim favorit untuk menjadi juara di akhir musim nanti. Manchester United tanpa Ferguson bak anak ayam kehilangan induknya, kapabilitas David Moyes masih dipertanyakan untuk membesut tim sebesar United. Saya tak akan heran jika tim itu kehilangan konsistensinya musim depan. Pun demikian dengan Manchester City, kehilangan Roberto Mancini sedikit-banyak akan berpengaruh pada performa tim tukang minyak lainnya itu musim depan.

Chelsea bak kuda balap juara yang mengikuti balapan kuda poni. Faktor pelatih jenius, gelontoran dana besar, dan kekuatan skuat yang mereka miliki saat ini akan membuat tim ini menjadi unggulan musim depan di atas United dan City. Arsenal dan Liverpool tak perlu saya sebutkan di sini, setelah bertahun-tahun dan berpuluh-puluh tahun tak pernah menjadi yang terbaik di Inggris akan membuat fansnya menjadi terbiasa untuk tidak diunggulkan bukan?

Kini tim medioker favorit saya menjelma menjadi tim mainstream (seperti halnya United dan Arsenal ketika saya memutuskan untuk jatuh cinta pada Chelsea). Adik-adik sekalian yang juga memilih tim anti kemapanan saat ini, kalian juga akan melewati apa yang pernah saya lewati saat itu. Saya mengerti betul jika sekarang kalian membenci Chelsea yang sudah menjadi menjelma menjadi tim mapan nan mainstream. Been there, done that.

Inilah nasib dan takdir saya. Lalu apa nikmatnya menjadi suporter mainstream? Huh.

Source: www.bolatotal.com

Selasa, 11 Juni 2013

Pengecut Itu Bernama Jose Mourinho


Jose Mourinho adalah seorang pengecut. Dan sebagai seorang pengecut, sepertinya ia cukup sukses. Berikut ini adalah alasannya…

Mourinho (mungkin) adalah satu-satunya pelatih di dunia yang paling banyak dikejar-kejar oleh wartawan. Bukan karena aksi kontroversialnya di dalam lapangan saja, tapi juga aksi dan komentarnya (termasuk konferensi pers) di luar lapangan. Semua yang berhubungan dengan dirinya pasti akan menjadi hot news dan ramai dibicarakan banyak orang. Saya menggolongkan orang yang terlalu banyak bicara sebagai pengecut.

Beberapa orang tak banyak tahu tentangnya ketika ia masih berada di Porto. Namanya baru mulai banyak dikenal orang ketika ia membawa tim asal Portugal itu memenangkan Liga Champion pada 2004 silam. Setelah memenangi trofi tersebut, Mourinho bergabung dengan Chelsea. Hah? Chelsea? Tim apa itu? Tim kaya baru yang memiliki sumber keuangan bernama Roman Abramovich itu? Oh.

Tak ada yang memperhitungkan Chelsea saat itu. Mentang-mentang ia baru saja memenangkan Liga Champion, ia pikir ia bisa sukses di sini? Cih. Mayoritas fans tim Manchester United dan Arsenal (mungkin termasuk fans Chelsea juga) kala itu pasti sempat berpikir demikian. Mohon maaf sebelumnya apabila saya tidak mencantumkan nama Liverpool apalagi Manchester City (you know the reason why).

Alih-alih gagal, Mourinho malah berhasil membawa Chelsea untuk pertama kalinya memenangi Liga Inggris selama lima puluh tahun. Gelar tersebut seolah menjadi kado manis untuk si klub kaya baru, karena pada tahun 2005 klub itu tepat merayakan centenary (100 tahun). Ajaibnya, ia bisa mengulangi prestasi yang sama setahun setelahnya.

Ah, ia hanya seorang pengecut yang beruntung.

Seiring berjalannya waktu, Mourinho pun pergi meninggalkan klub yang menjadikannya sebagai jutawan. Tepat pada September 2007, setelah kurang lebih tiga tahun menetap di London Barat, Mourinho mengakhiri kisah cintanya dengan Chelsea.

Ah, ia hanya seorang pengecut yang tak tahu berterima kasih.

Sempat menganggur cukup lama, ia baru menerima pekerjaan ketika diminta oleh Inter Milan untuk melatih di sana. Mei 2008 ia resmi diperkenalkan di depan publik Milan, dan banyak orang yang ragu apakah Mourinho bisa mengulang suksesnya di Chelsea. Mampukah? Mengingat ia hanya bisa memenangkan enam trofi di Stamford Bridge dalam kurun waktu tiga tahun. Prestasi yang biasa-biasa saja.

Mourinho membawa Inter menjadi salah tim yang paling ditakuti di Italia, hanya butuh waktu dua tahun melatih untuk memenangkan lima trofi. Bahkan apa yang ia torehkan di Italia cukup manis, pasalnya ia menjadikan Inter sebagai tim pertama di negeri spaghetti yang meraih Treble Winners pada 2010 silam. Kala itu ia berhasil menyandingkan trofi Liga Champion, Serie A, dan juga Coppa Italia. Prestasi yang biasa-biasa saja.

Anehnya, setelah meraih hasil manis di Italia ia pun memilih untuk kembali meninggalkan tim yang ia bangun dan hijrah ke Spanyol. Keputusan ini merupakan keputusan yang cukup kontroversial, mengingat rivalitas yang sangat tinggi diantara dua raksasa negeri matador. Memilih untuk menjadi pelatih Madrid berarti memastikan diri resmi menjadi musuh besar Barcelona (klub yang pada waktu itu mungkin tak memperlakukannya dengan baik sebagai staff dan asisten pelatih).

Ah, lagi-lagi ia hanya seorang pengecut yang tak tahu berterima kasih.

Selama tiga tahun melatih di sana, Mourinho hanya berhasil memenangi tiga trofi saja, tentu saja hasil ini adalah prestasi yang buruk mengingat ia punya CV bagus di tiga klub sebelumnya. Satu-satunya kesempatan untuk mendapatkan trofi musim ini pun ia buang sia-sia. Bukannya menjadi kampiun Copa Del Rey saat menghadapi Atletico, Mourinho hanya bisa menyaksikan para pemainnya gigit jari di akhir pertandingan dari layar televisi di ruang ganti, setelah dirinya diusir keluar oleh wasit di tengah pertandingan.

Ah, ia hanya seorang pengecut yang memalukan.

Sepekan silam, Mourinho resmi kembali ke London. Ia resmi menjalani konferensi pers perdananya sebagai pelatih Chelsea yang kedua kemarin siang waktu setempat. Dan seperti biasa, pelatih yang kini beruban itu menjual kecap di tengah-tengah para wartawan dengan mengatakan hal-hal manis yang ingin didengarkan oleh fans Chelsea.

Lucunya, di konferensi pers tersebut ia sempat membuat fans Barcelona (dan mungkin fans Atletico Madrid) yang menyaksikan atau membaca transkrip wawancara tersebut tertawa terbahak-bahak. Pada sesi wawancara itu ia sempat berkata demikian: “I hurt Spanish football by breaking Barca's domination." Just FYI, di era Mourinho, Barcelona memenangkan 9 trofi sedangkan Real  hanya 3. Dan yang yang lebih mencengangkan lagi, Atletico memenangi satu gelar lebih banyak dari Real di era Mourinho. Go home Jose, you’re drunk!

Bagi fans Chelsea, kembalinya Mourinho adalah berkah. Ibarat putus dengan pacar gendut yang bisa berbahasa Spanyol dan jadian dengan mantan pacar yang cantik nan aduhai yang punya banyak sekali kenangan manisnya.

Bagi fans Manchester United dan fans Barcelona, kembalinya Mourinho ke Chelsea karena ia gagal mendominasi Spanyol. Oleh karena itu ia memilih pulang ke Inggris dimana Sir Alex Ferguson yang merupakan seteru abadinya sudah pensiun.

Ya, Jose Mourinho adalah seorang yang pengecut.

He said he’s now The Happy One. Of course he’s happy, he has no rivals right now.

Source: www.bolatotal.com

Selasa, 04 Juni 2013

Pelatih Baru, Harapan Baru, Pemikiran Lama?



Baru beberapa jam yang lalu akun Twitter Chelsea Football Club (@chelseafc) mengumumkan bahwa Jose Mourinho resmi ditunjuk sebagai pelatih Chelsea untuk yang kedua kalinya.

Ketika membaca berita tersebut kebetulan saya baru saja berangkat dari rumah dengan mengendarai mobil untuk sekedar mencari makan malam. Mohon jangan tanyakan mengapa saya bisa membaca berita yang di-link ke linimasa, padahal saya tengah mengemudi. Don’t try this at home… I mean while driving. Sesungguhnya artikel ini dibuat bukan untuk membahas mengapa saya masih hidup setelah melakukan adegan ekstrim tadi, atau makanan apa yang akhirnya saya makan setelah mendengar kabar tersebut. So let’s go back to the topic.

Selama saya menikmati makan malam, tangan kiri saya tak pernah lepas dari track pad BlackBerry, sementara kedua mata saya terus menatap linimasa Twitter saya yang penuh sesak dengan fans Chelsea, sedangkan tangan kanan tetap fokus untuk menggerogoti makanan sambil sesekali memasukannya ke dalam mulut. Ya, tentu saja saya tak akan melewatkan euforia sebagai fans Chelsea atas kabar gembira ini. Jose Mourinho memang  bukan pelatih pertama yang memenangkan Liga Champion bersama Chelsea, tapi trofi Liga Inggris pertama yang ia persembahkan untuk tim yang terakhir kali memenangkannya 50 tahun silam pastinya sangat berkesan. Dan yang lebih membuat hal itu berkesan (buat saya khususnya), saya menyaksikan sendiri hal tersebut ketika sejarah itu tercipta.

Setelah menghabiskan satu dada ayam, dua sate kulit, dan dua porsi nasi (well, akhirnya kalian tahu makanan apa yang saya makan malam tadi), saya pun mulai mencoba untuk berpikir (beberapa orang bisa berpikir dengan jernih ketika perutnya sudah kenyang) mengenai hal ini. Dan dalam pemikiran tersebut, muncul beberapa pertanyaan di dalam benak saya.

Semua orang tahu bahwa kedatangan Mourinho ke Chelsea bukanlah yang pertama, saat ini ia datang kembali dengan status yang berbeda, yaitu mantan pelatih. Sebagai pelatih yang punya banyak kenangan manis - dan buruk juga pastinya - tentu ia punya pertimbangan lain mengapa ia memilih untuk kembali lagi ke klub yang pernah memperlakukannya dengan tidak semestinya. Adalah rahasia umum alasan kepergian Mourinho dari Chelsea pada September 2007 silam karena perselisihannya dengan pemilik klub, Roman Abramovich. Orang kaya asal Rusia itu memang terkenal arogan dan sering mengintervensi kebijakan klub, lalu untuk apa ia membayar mahal Chairman, CEO, dan lain sebagainya jika harus ia sendiri yang mengambil kebijakan menurut sudut pandangnya?

Setelah membaca transkrip wawancara perdana Mourinho di Chelsea TV yang dituliskan di www.chelseafc.com dengan penataan spasi yang cukup buruk sehingga membuat mata saya sakit, saya sempat bingung. Setelah apa yang terjadi pada 2007 silam, Mourinho kembali bertemu Abramovich dan mereka hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk sepakat kembali bersama? Luar biasa.
Tentu saja tak pernah ada yang menyangka sebelumnya akan melihat wajah yang sama seperti  yang mereka lihat sekitar 2004-2007 silam - dengan jumlah rambut putih yang berbeda - menghiasi ruang ganti Stamford Bridge. Karena di level profesional, tak banyak pelatih yang sudah memutuskan untuk hengkang, pada akhirnya kembali lagi. Kalaupun ada, sepertinya sulit untuk mengulang kesuksesan yang pernah ditorehkan sebelumnya. Beruntung Jupp Heynckes mematahkan anggapan banyak orang (khususnya saya) beberapa saat yang lalu, ia membawa Bayern Munich memenangkan Treble Winners setelah menyandingkan trofi Bundesliga, Liga Champion, dan DFB Pokal. Heynckes pernah melatih Bayern pada 2009 silam, meski saat itu ia hanya berstatus interim manager. Setelah itu ia melatih Bayer Leverkusen, sampai pada 2011 lalu kembali ke kota Munich dan membuat keajaiban di akhir musim ini.

Hal tersebut membawa harapan baru buat fans Chelsea (khususnya saya) ada pada diri Mourinho untuk mengikuti jejak Heynckes. Jika pada selang waktu 2004-2007 silam Mourinho berhasil membawa Chelsea memenangkan dua gelar Premier League, satu Piala FA, dan dua Piala Carling, tentu saja fans Chelsea berharap Mourinho bisa memenangkan lebih banyak lagi gelar yang belum sempat ia menangkan di Chelsea. Trofi Liga Champion ketiga untuknya pribadi mungkin bisa jadi kado manis kedatangannya kali ini. Atau Piala Super Eropa, misalnya, trofi yang musim ini dibungkus dengan rapih oleh Roberto Di Matteo untuk diberikan pada Atletico Madrid.

Berdasarkan transkrip wawancara di Chelsea TV tadi, Mourinho juga sempat mengatakan bahwa ia sudah menjadi pribadi yang lebih dewasa saat ini. Mantan pelatih Porto ini juga menegaskan bahwa Chelsea butuh stabilitas, sesuatu yang tak pernah dimiliki tim ini di era Roman Emperor. Jika semua berjalan sesuai dengan rencana, ia akan menetap lama di London dan menjadi pelatih lama The Blues.

Pertanyaan besar muncul dibalik pernyataan tersebut. Bagaimana jika semua tidak berjalan sesuai dengan rencana? Apakah ia siap diusir paksa dari Stamford Bridge oleh Abramovich untuk yang kedua kalinya? Semua orang di dunia ini - termasuk nenek saya - tahu bahwa mengakhiri musim tanpa trofi adalah kegagalan bagi perspektif Abramovich.

Jika Mourinho tak mampu mempersembahkan satupun gelar musim depan dan harus dipaksa angkat kaki (lagi), maka kata ‘kestabilan’ dipastikan masih belum tertulis dalam kamus Chelsea Football Club. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, hey fans Chelsea, siap sakit hati (lagi)?

Karena sesungguhnya percuma memiliki pelatih dan harapan yang baru, jika masih mempertahankan pemikiran lama.

Jumat, 24 Mei 2013

Emosi Fans Chelsea Yang Labil




Setujukah anda jika ada yang menyebutkan bahwa fans Chelsea adalah fans yang memiliki tingkat emosi paling labil?

Jika anda adalah seorang fans Chelsea, mungkin anda sedikit mengerenyitkan dahi membaca judul artikel ini, sekaligus berusaha memahami benar-benar maksud dari pernyataan tersebut.

Bagi fans Chelsea yang mengikuti perjalanan timnya khususnya di era Roman Emperor, anda pasti mengalami perjalanan emosi yang luar biasa mendukung tim tersebut selama satu dekade terakhir. Bagaimana tidak, mendukung sebuah tim yang pernah dilatih oleh sembilan orang pelatih selama 10 tahun belakangan adalah salah satu alasannya. Tak tanggung-tanggung, deretan pelatih top pernah menghiasi ruang ganti Stamford Bridge. Sebut saja Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Guus Hiddink, Carlo Ancelotti, Andre Villas-Boas, Roberto Di Matteo, dan Rafael Benitez.

Lalu apa hubungannya pelatih dengan emosi? Anda akan bermain dengan perasaan ketika berusaha untuk mengenal lebih dekat pelatih yang baru didatangkan untuk memimpin tim favorit kalian, berusaha untuk mencintainya seiring dengan waktu, dan kemudian harus kecewa ketika pelatih tersebut harus didepak dengan cara yang menyedihkan karena dianggap gagal karena alasan yang subjektif menurut sang pemilik klub. Padahal anda sudah mulai mencintai pelatih tersebut.

Mayoritas dari pelatih yang disebutkan di atas diberhentikan dengan cara tidak hormat, singkatnya: Dipecat. Torehan prestasi yang pernah diukir oleh sang pelatih di musim sebelumnya tidak berlaku, jika musim berikutnya ia tak berhasil memenangkan apapun. Hal ini membuat kursi kepelatihan Chelsea adalah yang terpanas, mungkin yang paling panas di dunia. Terdengar sangat kejam, tapi di Chelsea hal tersebut adalah hal yang lumrah. Setiap pelatih yang menerima pekerjaan untuk melatih di sana, tahu benar resiko yang harus mereka ambil jika mereka dianggap gagal. Tak berhasil memenangkan trofi berarti angkat kaki.

Berapa banyak dari kalian yang menangis ketika Mourinho, Ancelotti, dan Di Matteo dipaksa pergi dari London Barat setelah berhasil membawa Chelsea memenangkan gelar? Sebagai contoh, seorang sahabat saya menangis seperti bayi begitu ia membaca pernyataan di Twitter, yang mengatakan bahwa Ancelotti resmi diberhentikan di akhir musim. Double Winners pertama Chelsea sepanjang sejarah di musim sebelumnya seperti tidak berbekas, trofi Premier League dan Piala FA yang masih mengkilat di lemari penyimpanan piala - karena masih baru - tak mampu membuat Ancelotti bertahan karena puasa gelar di musim 2010-2011.

Di Matteo mengalami hal yang tak begitu jauh berbeda, ia bahkan harus dipecat di pertengahan musim 2012-2013. Ia belum menyelesaikan musim pertamanya sebagai pelatih tetap The Blues, trofi Liga Champion pertama untuk klub yang ia menangkan di akhir musim lalu setelah sepekan sebelumnya memenangkan Piala FA pun tak mampu menyelamatkan legenda hidup klub tersebut. Fans Chelsea sempat terpecah kala itu, yang sangat mencintai Di Matteo tentu marah atas perilaku sang pemilik klub yang dianggap berbuat seenaknya pada legenda tim mereka itu. Kemarahan tak berhenti sampai di situ, amarah fans Chelsea berlanjut ketika mengetahui bahwa Benitez yang ditunjuk sebagai interim manajer sampai akhir musim ini. Pernyataan Benitez sewaktu masih menjadi pelatih Liverpool adalah alasan utamanya, fans Chelsea menganggap Benitez bak musuh bebuyutan.

Nyaris sepanjang musim Benitez mendapat cemooh dari fans timnya sendiri. Beberapa poster bertuliskan 'Rafa Out' sering tersorot kamera setiap Chelsea sedang bertanding. Tak hanya itu, mereka malah menyanyikan chants yang mengejek pelatih asal Spanyol berbadan gempal tersebut. Baru-baru ini Chelsea dinobatkan sebagai juara Europa League setelah menang dramatis atas Benfica di partai puncak. Sebenarnya 'hanya' memenangkan satu trofi dari tujuh kesempatan mengangkat piala sebenarnya tak begitu bagus, tapi sebuah gelar itu mampu meluluhkan hati mayoritas fans Chelsea. Tulisan 'Rafa Out' pun mulai berganti menjadi 'Thank You Rafa', bahkan ada sebuah poster yang menuliskan 'Thank You Rafa, We Forgive You'.

Setelah sangat membencinya, sebuah gelar persembahan terakhir Rafa sebagai interim manajer mampu membuat fans Chelsea melupakan pertikaian dengannya. Apalagi Rafa tak hanya mempersembahkan gelar, ia juga membawa Chelsea memastikan satu tiket untuk kembali ke Liga Champion musim depan. Sebuah pencapaian yang patut diapresiasi. Jika anda adalah seorang fans Chelsea, anda pasti mengerti bagaimana rasanya memenangkan Europa League dan finish di peringkat tiga klasemen, setelah mengalami musim yang bisa dibilang ambudarul. Sekali lagi saya tegaskan, emosi anda bermain di sini.

Dan naik-turunnya emosi kalian tak akan berhenti sampai di sini, karena musim depan Chelsea akan dipimpin oleh seorang pelatih baru (lagi), dan kalian akan berusaha untuk mencintainya (lagi), dan kemungkinan besar akan bersedih (lagi) jika pelatih anda dianggap gagal karena tak berhasil mempersembahkan trofi untuk Chesea. Emosi yang tidak stabil karena pergantian pelatih ini tak pernah dirasakan oleh fans Manchester United dan Arsenal selama belasan bahkan puluhan tahun lamanya. And you know the reason why.

Menyambut musim yang baru, hanya satu pertanyaan yang ada di benak saya: Sudah siap sakit hati lagi, fans Chelsea? Jadi tak perlu malu untuk mengakui bahwa kalian memang labil.

Source: www.chelseafc.or.id

Kamis, 25 April 2013

Manchester United Yang Tidak Pernah Menjadi Biasa




Jika ada yang menganggap Manchester United tampil biasa-biasa saja musim ini, well mungkin anda hidup di planet Mars.



Ketika kebanyakan orang memandang mereka sebelah mata karena kalah oleh Everton di pertandingan perdana musim ini, hal itu tidak berlaku dengan saya. Mengapa? They are Man United. They do what they want. Literally.

Masih ingatkah anda ketika United harus mengakhiri musim 2011-2012 dengan sangat menyakitkan karena hanya kalah selisih gol dengan jumlah poin yang sama dari tim tetangga yang berisik? Yang lebih menyakitkan lagi, pesta perayaan United dicuri di menit-menit akhir, ketika Edin Dzeko dan Sergio Aguero mencetak gol di pertandingan sebelah untuk memastikan kemenangan Manchester City. Saat itu, semua fans United yang menyaksikan dua gol tersebut bersarang di gawang QPR – yang hanya dalam hitungan menit – tentu seperti ditampar oleh Mike Tyson. Pastinya sangat menyakitkan. And because of that goals, they were Manchester Untitled, not United that season.

Belajar dari pengalaman pahit musim lalu, United bangkit musim ini. Entah apa yang terjadi di ruang ganti United musim ini. Apakah Sir Alex Ferguson mengancam akan melempar sepatu pada siapapun yang dianggap bermain jelek di setiap pertandingan? We don’t know. But they did a very great job this season. Meskipun tampil tidak terlalu fantastis, United adalah tim yang paling konsisten di Premier League. Mereka tak harus bermain spektakuler untuk bisa mencuri tiga angka di setiap pertandingannya. Saya ulangi lagi, konsisten.

 


Banyak orang menyematkan United sebagai Van Persie FC ketika mantan pemain kesayangan dan mantan kapten Arsenal (yang ini harus ditulis, penting!) tersebut berkali-kali menjadi penyelamat timnya. Dan apakah saya setuju dengan pernyataan tersebut? Tidak. Van Persie TIDAK mencetak gol selama 10 pertandingan Premier League dan apa yang terjadi pada United? Nothing. United tetap mampu meraih kemenangan demi kemenangan without The Dutchman goals. Hal ini memastikan bahwa mereka bukanlah one man show team. Seperti halnya judul lagu lawas ‘Save The Best For Last’, RVP mengukuhkan diri menjadi pencetak gol terbanyak sementara ketika mencetak hat-trick ke gawang Aston Villa, sekaligus memastikan gelar ke-20 United musim ini.

Lalu tim mana yang sebenarnya menjadi one man show team musim ini? Mari kita berandai-andai. Apa jadinya Chelsea tanpa Juan Mata? Tottenham Hotspur tanpa Gareth Bale? Dan Liverpool tanpa Luis Suarez? Tidak perlu penjelasan lebih, semua pasti tahu alasannya. Ya, mereka memegang peranan penting untuk timnya masing-masing. Tanpa tiga pemain tersebut, tim mereka dipastikan hanya akan bertengger di papan tengah. Maaf, koreksi, kecuali Liverpool. Ya karena mereka memang sudah berada di sana.
Memenangi Liga Inggris sebanyak 20 kali, yang 13 diantaranya dimenangi di era Premier League, tentu bukanlah hal biasa.

 


Dan apabila ada yang menyanyakan siapa tim terbaik di Inggris dalam dua dekade terakhir? Jawabannya hanya satu: United. Jika ada yang menjawab Chelsea, Arsenal, atau bahkan Liverpool, mungkin ia tertidur selama dua dekade belakangan. Akumulasi dari faktor pelatih jenius, pemain setia, dan fans fanatik, menjadikan tim ini berbeda dari yang lainnya. Oleh karena itu, United mampu membangun sejarah dan tradisi yang kuat di dunia sepak bola negeri Ratu Elizabeth ini.

Menyisakan empat pertandingan liga dengan jumlah 84 poin dengan telah memastikan gelar tentunya tak akan membuat mereka puas dan berhenti mengukir catatan sejarah. Semua orang tahu bahwa gelar ini akan lebih manis jika mereka mampu melampaui jumlah poin yang pernah ditorehkan Chelsea – yang saat itu diarsiteki oleh Jose Mourinho – delapan tahun silam. Chelsea berhasil mengoleksi 95 poin kala itu, dan saat ini masih menjadi jumlah poin tertinggi di era Premier League. Jika Ryan Giggs cs bisa menyapu bersih empat pertandingan sisa, jumlah poin mereka akan menjadi 96 poin. Tentu saja hal ini menjadikan United sebagai tim yang mampu mencetak sejarah baru di Inggris.

Pertanyaannya: Apakah mungkin bagi tim yang dianggap tampil biasa-biasa saja musim ini, punya kesempatan untuk mencetak sejarah langka seperti ini? Tentu saja tidak.
Ada hal yang menarik di sini. Untuk mematahkan rekor Chelsea tersebut, United harus menundukkan sang empunya rekor di Old Trafford pada akhir pekan depan. Dan apakah mereka mampu meraih total 96 poin pada 19 Mei nanti di pertandingan penutupan?

 


Time will answer. But one thing that you have to remember for the entire of your life: They are Man United. They do what they want.

Setelah membaca artikel ini, kira-kira masih ada yang menganggap United adalah tim yang tampil biasa-biasa saja musim ini? I don’t think so.

*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: Manchester United Yang Tidak Pernah Menjadi Biasa*

Source: www.supersoccer.co.id

Jumat, 23 November 2012

Ujian Fans Chelsea Yang Sesungguhnya: Roman Abramovich





Ya, artikel ini memang dibuat berdasarkan polemik yang terjadi di tubuh Chelsea saat ini. Dimana para fans mulai terpecah, beberapa – meski merasa sedih – tetap yakin pada keputusan sang pemilik – dan sebagian besar lainnya mulai kehilangan kepercayaan pada sang pemilik yang dikenal sadis dalam memecat pelatih papan atas. Sang taipan Rusia memang cukup berdarah dingin dalam memuaskan ambisinya, sebut saja nama-nama besar yang dibuang begitu saja seperti Claudio Ranieri, Jose Mourinho, Avram Grant, Luiz Felipe Scolari, Carlo Ancelotti, Andre Villas-Boas, dan yang terakhir adalah Roberto Di Matteo. Bahkan kemilau rentetan piala yang pernah dipersembahkan oleh Mourinho, Ancelotti, dan Di Matteo tak mampu menjadi alasan, jika sang pemilik sudah menganggap pekerjaan mereka gagal.

Hal ini membuat kursi pelatih Chelsea saat ini menjadi yang terpanas di dunia, siapapun yang berani menerima pekerjaan sebagai pelatih Chelsea pastinya harus mempunyai persiapan mental yang cukup jika suatu saat nanti mereka disingkirkan begitu saja dari Stamford Bridge. Bahkan gaji besar yang ditawarkan melatih di sana rupanya masih menciutkan nyali Pep Guardiola – yang namanya sempat mencuat sebagai pelatih selanjutnya – sehingga harus berasalan belum mau melatih lagi.

Abramovich memang lebih terlihat sebagai kaisar di kerajaan adidaya, daripada sekedar seorang pemilik tim sepak bola profesional. Tindakannya memang terlihat sangat arogan, tapi begitulah cara sang kaisar memerintah di kerajaan yang sedang dipimpinnya yang bernama The Roman Empire. Mengutip sebuah pernyataan dari seorang sport caster yang cukup dikenal di negeri ini, Reinhard Tawas melalui akun twitter miliknya: @reinhardtawas: “Di salah satu panel atap Stamford Bridge ada tulisan besar yang tak pernah masuk TV: Roman Empire. Mungkin karena itu dia bertindak seperti kaisar.” Ya, tulisan singkat yang ada di atap stadion itu mungkin menjelaskan semuanya.

Abramovich saat ini memang selalu menjadi bahan olok-olok dari fans klub rivalnya atas kebiasaan buruknya tersebut, dan yang lebih memperparah adalah olok-olokan tersebut kini datang dari fans Chelsea sendiri. Tapi, adakah yang mampu mengambil sisi positif dari kebiasaan buruk sang pemilik tersebut?

Fans Manchester City boleh berbangga mempunyai seorang pemilik klub yang kekayaannya jauh melampaui Abramovich, jangan heran bila semua pemain besar dari seluruh penjuru dunia seolah berlomba-lomba ingin merapat ke Etihad Stadium di Manchester untuk mendapatkan gaji spektakuler dan jauh dari apa yang pernah mereka terima sebelumnya. Akan tetapi, apakah pemilik mereka, Sheikh Mansour, sering terlihat di setiap pertandingan untuk menyaksikan tim yang dimilikinya bertanding? Tidak. Anda bisa menghitung dengan jari berapa kali pemilik asal Abu Dhabi itu menyaksikan timnya berlaga. Tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan Abramovich, yang hampir di setiap pertandingan selalu terlihat di tribun menikmati tim kesayangannya bertanding. Bahkan untuk laga tandang sekalipun, ia nyaris tak pernah absen.



Tak bisa dipungkiri, Abramovich adalah fans nomor satu Chelsea. Ron Gourlay, CEO Chelsea, menegaskan bahwa tidak ada satupun orang yang mencintai Chelsea melebihi dirinya (Roman), dan dia akan melakukan apapun demi mendapatkan banyak gelar. Mungkin karena itu ia sering menginterfensi langsung klub yang dimilikinya, tidak seperti para pemilik klub yang lain yang lebih mempercayakan tugas itu diemban oleh jejeran petinggi klub dengan tugasnya masing-masing.

Meski terlihat tidak terima atas tindakan semena-mena yang dilakukan oleh sang pemilik, fans Chelsea saat ini masih terlihat dalam situasi yang cukup kondusif. Di dalam lubuk hati mereka sebenarnya cukup sadar atas apa yang sudah dilakukan oleh sang pemilik sejak mengambil alih klub kesayangan mereka dari Ken Bates, pemilik sebelumnya pada tahun 2003 silam. Sejak kedatangan Roman, Chelsea pun menjelma menjadi tim yang sangat ditakuti. Gelar medioker yang kala itu menempel pada tim ini pun mulai luntur, Chelsea berubah menjadi tim yang cukup ditakuti di Inggris, bahkan di Eropa. Prestasi puncaknya adalah pada Mei silam, ketika tim yang tidak diunggulkan saat itu mampu membalikkan keadaan dan menang secara dramatis di Munich atas tuan rumah, Bayern Munich. Yes, their first Champions League trophy, Champions of Europe.

Kepergian Di Matteo yang sangat mendadak memang menyedihkan buat sebagian besar fans Chelsea, tapi bukankah hal seperti ini sudah biasa di era kepemimpinan Roman? Kepergian Mourinho dan Ancelotti sebelumnya juga sempat memunculkan polemik serupa, namun pada akhirnya itu semua bisa dilewati dan terlupakan dengan sendirinya bukan? Jika anda merupakan fans Chelsea, anda tak perlu takut tim anda tak memenangkan gelar apapun selama tujuh tahun, atau harus menunggu puluhan tahun untuk bisa kembali menjadi yang terbaik di Inggris. Abramovich tak akan membiarkan hal itu terjadi, oleh karena itu mengapa ia terlalu mudah memecat pelatih yang ia anggap gagal, melalui perspektifnya.

Pelatih anyar The Blues, Rafa Benitez, memang pelatih yang kurang disukai di Stamford Bridge, apalagi ia punya reputasi buruk terhadap Chlelsea saat masih menukangi The Reds melalui komentar-komentarnya kala itu. Namun kini ia adalah bagian dari Chelsea, jika anda benar-benar menyukai tim ini, tentu anda harus menerimanya, suka atapun tidak. Abramovich sudah memberikannya kepercayaan pada pelatih asal Spanyol itu untuk menukangi tim yang dicintainya, dan memang tak ada salahnya kan mencoba? If you never try, you’ll never know.

Haruskah fans Chelsea membenci Roman setelah apa yang dilakukannya selama ini? Jika anda benar-benar mencintai klub tersebut, pada akhirnya anda pasti mengerti. At Least, cobalah untuk mengerti. Abramovich adalah ujian fans Chelsea yang sesungguhnya, if you really know what I mean.



So the question is: Which Chelsea fans are you? ‘In Roman We Trust’ or ‘Love Chelsea Hate Roman’? You choose!

*Artikel ini adalah milik pribadi yang dibuat untuk Super Soccer dengan judul asli: Ujian Fans Chelsea Yang Sesungguhnya: Roman Abramovich*

Source: www.supersoccer.co.id

Selasa, 09 Oktober 2012

LUPA


Lupa adalah hal yang sangat manusiawi
Semua orang pasti bisa lupa
Bahkan hal-hal terindah pun bisa terlupa
Ada yang sengaja, ada yang tidak sengaja
Kalo yang tidak sengaja, namanya Amnesia
Meskipun banyak yang berseru 'Menolak lupa', terkadang lupa tak bisa ditolak
Pilihannya kan cuma dua: Kalo tidak lupa, ya berarti ingat


Postingan di atas bukan puisi, atau bahkan sajak. Hanya ungkapan doang, setelah terakhir kalinya gue posting artikel terakhir tanggal 22 Mei 2012, gue bahkan gak inget apa isi password blog gue ini pas gue mau nulis lagi hari ini. Ah elah.

Gak pernah nulis blog lagi bukan berarti gue gak punya ide atau apa, terkadang gue cuma gak punya waktu. Gue janji deh bakal lebih sering lagi mampir dan nulis di sini (lagi), sebelum akhirnya gue bener-bener gak bisa masuk lagi karena itu tadi. LUPA. :D